Waspada! Inilah Penyebab Difteri

Difteri banyak ditemui di negara-negara berkembang seperti Indonesia, di mana angka vaksinasi masih rendah. Kondisi seperti ini dapat terjadi pada pasien dengan usia berapapun. Difteri dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Selanjutnya anda bisa diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut. Difteri merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium. Gejalanya biasanya sakit tenggorokan, demam, dan terbentuknya lapisan di amandel dan tenggorokan. Untuk kasus yang parah, infeksi bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung dan sistem saraf. Beberapa pasien juga mengalami infeksi kulit. Salah satu bakteri penyebab difteri menghasilkan racun yang berbahaya jika menyebar ke bagian tubuh lain.

Tanda Tanda Jika Terkena Difteri

  1. Tenggorokan dilapisi selaput tebal berwarna abu-abu
  2. Radang tenggorokan dan serak
  3. Pembengkakan kelenjar pada leher
  4. Masalah pernapasan dan saat menelan
  5. Cairan pada hidung, ngiler
  6. Demam dan menggigil
  7. Batuk yang keras
  8. Perasaan tidak nyaman
  9. Perubahan pada penglihatan
  10. Bicara yang melantur
  11. Tanda-tanda shock, seperti kulit yang pucat dan dingin, berkeringat dan jantung berdebar cepat.

Difteri disebabkan oleh Corynebacterium, yaitu bakteri yang menyebarkan penyakit melalui partikel di udara, benda pribadi, serta peralatan rumah tangga yang terkontaminasi. Jika Anda menghirup partikel udara dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi, Anda dapat terkena difteri. Cara ini sangat efektif untuk menyebarkan penyakit, terutama pada tempat yang ramai. Anda harus menghubungi dokter bila Anda atau anak Anda terkena kontak dengan seseorang yang memiliki difteri. Apabila Anda tidak tahu apakah Anda atau anak Anda telah diberi vaksin difteri atau belum, segera atur jadwal pertemuan dengan dokter.

Pada kasus yang langka, difteri menyebar pada peralatan rumah tangga yang digunakan bersama, seperti handuk atau mainan. Menyentuh luka yang sudah terinfeksi juga bisa membuat Anda terekspos bakteri yang menyebabkan difteri ini. Penyebab difteri lain yang juga perlu anda waspadai adalah kontak dengan benda – benda pribadi yang terkontaminasi. Anda dapat terkena difteri dengan memegang tisu bekas orang yang terinfeksi, minum dari gelas yang belum dicuci, atau kontak sejenisnya dengan benda – benda yang membawa bakteri.

Ada banyak sekali faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena difteri, Salah satunya:

  • Lokasi yang Anda tinggali
  • Tidak mendapat vaksinasi difteri terbaru
  • Memiliki gangguan sistem imun, seperti AIDS
  • Memiliki sistem imun lemah, misalnya anak-anak atau orang tua
  • Tinggal di kondisi yang padat penduduk atau tidak higienis

Untuk mendapatkan diagnosa suatu penyakit penyebab difteri, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik terlebih dahulu untuk memeriksa adanya pembengkakan pada kelenjar limfa. Jika memang dokter melihat lapisan abu-abu pada tenggorokan dan juga amandel Anda, dokter dapat menduga Anda memiliki difteri. Dokter juga bisa menanyakan sejarah medis dan juga gejala yang Anda alami. Akan tetapi, metode paling aman untuk mendiagnosis difteri adalah dengan biopsi. Sampel jaringan yang terpengaruh akan diambil dan kemudian akan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa disana, apakah Anda memiliki bakteri difteri atau tidak. Dokter akan segera menangani penyakit ini, karena difteri merupakan kondisi yang sangat serius. Pertama, dokter akan memberi suntikan antitoksin, untuk menetralisir racun yang dihasilkan oleh bakteri. Jika alergi terhadap antitoksin, Anda bisa memberi tahu dokter agar dokter dapat menyesuaikan pengobatan.

Normal apabila dokter meminta pasien untuk tinggal di rumah sakit untuk mengawasi reaksi terhadap pengobatan dan mencegah penyebaran penyakit. Jika Anda atau anak Anda melakukan kontak dengan seseorang dengan penyakit difteri, Anda perlu segera mengunjungi dokter untuk melakukan tes dan kemungkinan perawatan disana. Pada beberapa pasien yang alergi, biasanya dokter akan memberi dosis antitoksin yang kecil dan juga akan meningkatkan kadar secara bertahap. Setelah itu, dokter akan memberikan antibiotik untuk membantu mengatasi infeksi. Dan setelahnya diberikan obat-obatan tersebut, dokter dapat merekomendasi dosis pendorong vaksin penyebab difteri setelah sehat, untuk membangun pertahanan terhadap bakteri difteri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*