Cara Mudah Membedakan Antara Batik Solo dan Batik Jogja

Batik telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Batik juga diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia yang harus dilestarikan. Berbagai motif batik telah muncul dari waktu ke waktu. Dari sekian banyak motif batik yang ada saat ini, Jogja (Yogyakarta) dan Solo-batik masih menjadi incaran para pecinta batik. Jadi di mana motif batik yang berbeda dari dua kota yang merupakan fragmen dari kerajaan Mataram? Menurut Alfa Fabela Priyatmono, ketua Forum Pengembangan Batik Kampeyeng Laweyan, Solo, ada perbedaan yang signifikan antara motif batik dari kota Jogja dan Solo. Dalam motif batik tradisional ada perbedaan besar dengan batik Solo dan Jogja di latar belakang untuk motif dan motif. Batik Jogja cenderung menggunakan motif latar belakang putih, sedangkan Solo cenderung berubah menjadi cokelat atau gelap.

Namun ada juga banyak batik Jogja yang memiliki warna dasar hitam atau gelap. Namun warna hitam Jogja cenderung kebiru-biruan, sedangkan warna-warna gelap batik Solo adalah hitam paling kecoklatan. Maka perbedaan lainnya ada pada subjek. Meskipun mereka tetap mempertahankan desain standar istana, ada beberapa hal. Sebagai contoh, pada motif parang, Jogja hanyalah parang dengan latar belakang putih, tetapi Solo-parang ingin lebih banyak foto, kata Alfa ketika dia bertemu di rumahnya di Laweyan. Apalagi motif parang solo diarahkan dari kiri atas ke kanan bawah. Sedangkan motif parang Jogja menggunakan jalur yang berlawanan, dari kanan atas ke kiri bawah. Menurut Alfa, perkembangan batik saat ini sangat dinamis, tetapi masih mempertahankan motif istana yang sehat, baik Kraton Yogyakarta maupun Kraton Solo, karena keduanya berasal dari kerajaan.

Sementara itu, menurut Tiwi Bina Affanti, kepala industri tekstil di Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, salah satu perbedaan motif batik dari Jogja dan Solo adalah dari struktur garis. Garis-garis di Jogja biasanya lebih besar dan lebih tebal, di Solo lebih sedikit dan lebih tipis, kata Tiwi. Tiwi menjelaskan bahwa asal usul perbedaan-perbedaan ini tidak dapat dipisahkan dari kisah kedua istana, Solo dan Jogja, sejak perjanjian Giyanti selama periode Mataram Islam. Perkembangan motif batik sejak saat itu sangat terlihat untuk menekankan perbedaan antara kedua kota. Batik Solo menekankan istilah C mixt (pengadilan hitam) dan jogja Background Pethak (pengadilan putih). Menurut beberapa pengamat batik, batik Jogja memiliki kesan kuat dan bernilai karena motifnya yang ketat. Batik Solo menonjolkan keindahan (edi peni) dengan motif yang lebih halus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*